Saturday 7 May 2011

Midnight Sun Bagian 8

Hantu
Aku tidak terlalu sering menemui tamu Jasper di dua hari kedatangannya ke Forks. Aku hanya pulang semata-mata agar Esme tidak khawatir. Sudah begitu, keberadaanku sekarang lebih mirip seperti hantu daripada vampir. Aku menunggu, tersembunyi dibalik bayangan, dan membuntuti obyek obsesiku. Aku mengawasi dan mendengarkan dia dari pikiran orang-orang yang begitu beruntung karena bisa berjalan bersamanya dibawah sinar matahari, yang sesekali secara tidak sengaja menyentuh tangannya saat berjalan. Dia tidak pernah bereaksi dengan sentuhan seperti itu; tangan mereka sama hangatnya dengan tangan dia.


Keterpaksaan membolos begini tidak pernah semenyiksa ini sebelumnya. Tapi matahari kelihatannya membuat dia bahagia, jadi aku tidak terlalu kesal. Apapun yang membuatnya senang aku ikut senang.

Senin pagi, aku menguping pembicaraan yang berpotensi merusak kepercayaan diriku dan membuat hariku jadi lebih parah. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, berita baik lah yang kudapat.

Aku sedikit menaruh hormat pada Mike Newton; dia tidak menyerah begitu saja dan terpuruk. Dia jauh lebih berani dari yang kukira. Dia akan mencobanya lagi.

Bella tiba di sekolah lebih awal. Dia terlihat sangat menikmati pancaran matahari, duduk di salah satu kursi piknik yang jarang dipakai sembari menunggu bel pertama berbunyi. Sinar matahari membuat rambutnya kelihatan berbeda, memancarkan semburat merah yang tidak kulihat sebelumnya.

Mike menemukan dia disana, dan merasa senang pada keberuntungannya. Rasanya menyakitkan hanya bisa menonton, tak berdaya, terpenjara dibalik bayang-bayang hutan. Bella menyapanya dengan semangat yang cukup membuat Mike girang, dan yang sebaliknya terjadi padaku.

Betul kan, dia menyukaiku. Dia tidak akan tersenyum seperti itu jika dia tidak suka. Berani taruhan, Sebetulnya dia ingin pergi ke pesta dansa bersamaku. Kira-kira apa yang begitu penting di Seattle... Mike menyadari perubahan di rambut Bella. “Aku tidak pernah menyadari sebelumnya—rambutmu ada semburat merahnya.”

Aku secara tidak sengaja mencabut batang pohon palem muda disampingku saat melihat Mike meraih sejumput rambut Bella dengan tangannya.

“Hanya dibawah sinar matahari,” katanya.

Dengan puas aku melihat bagaimana Bella agak menarik diri menjauh ketika Mike mengembalikan rambutnya ke belakang telinga. Butuh beberapa saat bagi Mike untuk mengembalikan keberaniannya lagi, menghabiskan beberapa saat dengan obrolan ringan.

Bella mengingatkan tentang esay yang mesti dikumpulkan pada hari rabu. Dari ekspresi puas samar di wajahnya, sepertinya tugasnya sudah selesai. Sedang Mike sama sekali lupa. Dasar esai sialan! Akhirnya ia sampai ke pokok pembicaraan—gigiku terkatup sangat rapat hingga bisa mengikis batu granit. Tapi kemudian dia tidak sanggup menanyakannya begitu saja.

“Kurasa aku harus mengerjakan esaiku malam ini. Padahal aku ingin mengajakmu kencan.”

“Oh,” ujar Bella.

Sejenak hening.

Oh? Apa itu artinya? Apa dia akan berkata ya? Tunggu—sepertinya aku belum benar-benar bertanya. Mike menelan ludah.

“Well, kita bisa pergi makan malam atau apa...dan aku bisa mengerjakan esaiku nanti.”

Geblek—itu juga bukan pertanyaan.

“Mike...”

Pedih dan marah akibat cemburu, terasa berkali-kali lipat lebih besar dari minggu lalu. Aku mematahkan satu batang pohon lagi. Aku sangat ingin terbang kesana, secepat kilat hingga tak ada yang bisa melihat, dan merenggutnya—untuk menculik Bella dari bocah yang saat ini begitu kubenci hingga bisa saja aku membunuhnya detik ini juga dan menikmatinya.

Apa dia akan menjawab ya padanya?

“Aku pikir itu bukan ide yang bagus.”

Aku bernapas lagi. tubuhku bisa kembali rileks.

Sepertinya Seattle memang cuma alasan. Aku seharusnya tidak bertanya. Apa yang kupikirkan? Berani taruhan pasti gara-gara si aneh Cullen itu...

“Kenapa?” tanya Mike dengan marah terpendam.

“Kurasa...” Bella bimbang. “Kalau kau sampai cerita-cerita apa yang akan kuberitahu ini ke orang lain, dengan senang hati aku akan memukulimu sampai mati—”

Aku tergelak mendengar ancaman kematian keluar dari mulutnya. Seekor burung cericit terhenyak kaget dan langsung terbang kabur.

“Tapi kurasa itu akan membuat Jessica patah hati.”

“Jessica?” Apa? Tapi... Oh. Oke. Sepertinya... Jadi... Hmm.

Pikirannya kini saling tumpan tindih.

“Yang benar saja, Mike, kau ini buta ya?”

Tidak seharusnya Bella berharap orang lain sepeka dia. Tapi, memang, hal itu sebetulnya sangat kentara. Dengan segala kerepotan yang Mike persiapkan untuk mengajak Bella kencan, apa dia pernah membayangkan bahwa tidak akan sesulit itu jika menghadapi Jessica? Pasti karena egois, yang membuat dia buta dengan sekelilingnya. Sedang Bella begitu tidak egois, dia melihat segalanya.

Jessica. Hmm. Wow. Hmm. “Oh,” Dia tidak bisa berkata-kata.

Bella memanfaatkan kebingungan itu untuk menghindar.

“Waktunya masuk kelas, dan aku tidak boleh terlambat lagi.”

Sejak itu pikiran Mike sudah tidak bisa kuandalkan lagi. Saat berulang kali membayangkan Jessica di kepalanya, dia merasa lebih suka pada ide bahwa Jessica tertarik pada dirinya. Buatnya itu pilihan kedua, tidak sebaik jika itu adalah Bella.

Kurasa dia cukup manis. Badannya lumayan. Burung yang sudah di tangan...

Kemudian dia lenyap, sibuk dengan fantasinya, sevulgar fantasinya tentang Bella, tapi kini lebih membuatku jijik dari pada marah. Dia tidak layak mendapatkan gadis manapun; baginya mereka hampir bisa ditukar-tukar. Sebisa mungkin aku menjauhi pikirannya.

Ketika Bella sudah hilang dari pandangan, aku duduk bersandar pada batang pohon Madone besar, berloncatan dari pikiran ke pikiran, mengikuti Bella terus, dan senang jika ada Angela Weber di dekatnya. Kuharap ada satu cara untuk bisa berterima kasih pada gadis itu karena sudah menjadi teman yang baik buat Bella. Aku merasa lebih baik tahu Bella punya satu orang yang layak disebut teman.

Aku mengamati wajah Bella dari sisi manapun yang tersedia, dan dia terlihat sedih lagi. Ini mengejutkanku—kupikir cuaca cerah cukup membuatnya tersenyum. Pada saat jam makan siang, dia berkali-kali melirik ke meja keluargaku yang kosong. Dan itu membuatku berdebar-debar, memberiku harapan. Barangkali dia merindukanku juga. Dia berencana untuk jalan-jalan bersama teman-teman perempuannya—otomatis aku juga merencanakan pengintainku sendiri—tapi kemudian rencana mereka tertunda karena Mike mengajak Jessica kencan. Jadi, aku langsung saja pergi ke rumah Bella, menyisiri hutan di sekelilingnya untuk memastikan tidak ada bahaya. Aku tahu Jasper sudah mewanti-wanti 'saudaranya' agar menghindari pemukiman, tapi aku tidak mau ambil resiko. Peter dan Charlotte memang tidak berniat cari gara-gara dengan keluarga kami, tapi niat selalu berubah-ubah tiap waktu...

Oke, aku memang berlebihan. Aku tahu itu. Seakan dia tahu aku sedang mengawasi, seakan dia merasa kasihan dengan penderitaanku karena tidak bisa melihatnya, Bella keluar ke halaman setelah berjam-jam di dalam. Dia membawa sebuah buku tebal dan selimut.

Diam-diam aku memanjat ke dahan pohon paling tinggi agar lebih bisa leluasa melihatnya. Dia menggelar selimutnya ke atas rerumputan yang lembab dan berbaring menelungkup. Kemudian ia mulai membalik-balik bukunya, yang kelihatannya sudah sering dibaca, seakan sedang mencari halaman terakhir yang dibaca. Aku membaca lewat pundaknya.

Ah—lagi-lagi klasik. Dia penggemar Austen. Dia membaca dengan cepat sambil menyilangkan pergelangan kakinya di udara. Aku sedang mengawasi bagaimana sinar matahari dan tiupan angin memainkan rambutnya saat tiba-tiba badannya kaku, tangannya membeku di satu halaman. Yang bisa kulihat dia sudah sampai ke bab ketiga saat tiba-tiba jarinya mengambil setumpuk halaman berikutnya, dan membukanya dengan kasar. Aku sempat melihat judul halamannya, Mansfield Park. Dia memulai cerita yang baru—bukunya kumpulan karya Jane Austen. Aku bertanya-tanya kenapa mendadak ceritanya diganti.

Tidak beberapa lama, dia menutup bukunya dengan kesal. Dengan wajah sengit ia singkirkan bukunya dan berguling menelentang. Dia menghela napas panjang, seakan sedang menenangkan diri, menarik lengan bajunya keatas, dan memejamkan mata. Aku mengingat-ingat novel itu, tapi tidak bisa menemukan sesuatu yang dapat membuatnya kesal. Satu misteri lagi. Aku mendesah.

Dia berbaring diam, hanya sekali membuat gerakan saat menyingkap rambutnya, membuangnya keatas kepala—aliran sungai coklat kemerahan. Setelah itu dia tidak bergerak lagi. Napasnya lambat. Aku coba mendengarkan suara-suara dari rumah terdekat sampai sejauh mungkin.

Dua sendok makan tepung...secangkir susu... Ayolah! Pakai saja yang ada! Yang merah, atau biru...atau mungkin aku sebaiknya memakai sesuatu yang lebih kasual...

Tidak ada siapa-siapa di dekat sini. Aku meloncat turun, mendarat tanpa suara pada ujung kakiku. Ini sangat-sangat salah, sangat beresiko. Aku ingat bagaimana aku sering menghakimi tindakan-tindakan Emmet yang tanpa dipikir panjang dulu dan bagaimana Jasper yang kurang disiplin—dan sekarang secara sadar aku mengabaikan segala aturan itu sedemikian parahnya hingga membuat penyelewengan mereka jadi tidak ada artinya. Biasanya aku selalu jadi yang paling bertanggung jawab.

Aku menghela napas dalam-dalam, kemudian menyelinap maju kebawah sinar matahari. Aku berusaha tidak melihat tubuhku yang terpapar cahaya matahari. Sudah cukup buruk bagaimana kulitku seperti batu dan tidak wajar saat di balik keremangan; aku tidak mau melihatnya saat aku dan Bella bersebelahan dibawah sinar matahari. Jurang perbedaan diantara kami sudah cukup besar, sudah cukup menyakitan tanpa harus ditambah gambaran ini di kepalaku. Tapi aku tidak bisa mengabaikan kilauan pelangi yang memantul di kulitnya saat aku mendekat. Rahangku terkunci ketika melihat pemandangan itu. Bisakah aku lebih aneh lagi? Aku membayangkan betapa ngerinya dia seandainya tiba-tiba matanya terbuka... Aku sudah mau mundur lagi, tapi kemudian ia menggumam, menahanku di tempat.

“Mmm... Mmm...”

Tidak terlalu ada artinya. Well, aku akan menunggu sebentar. Dengan hati-hati aku mengambil bukunya, mengulurkan tangan sambil menahan napas saat mendekat, sekedar jaga-jaga. Aku bernapas lagi ketika sudah kembali menjauh beberapa meter. Bisa kurasakan bagaimana sinar matahari dan udara terbuka berpengaruh pada aromanya. Panas membuat aroma tubuhnya jadi lebih manis. Tenggorokanku pun terbakar oleh hasrat yang besar, apinya membara dahsyat karena aku sudah terlalu lama tidak bertemu dengannya.

Aku diam sebentar untuk menguasai diri, dan kemudian—memaksakan diri untuk bernapas lewat hidung—kubuka bukunya. Dia mulai dengan cerita pertama... Aku membalik-balik halamannya sampai ke judul bab tiga, Sense and Sensibility, mencari sesuatu yang berpotensi membuatnya marah dalam karya Jane Austen yang sopan ini.

Saat secara otomatis mataku tertuju pada namaku—pada halaman inilah untuk pertama kalinya tokoh Edward Ferrars diperkenalkan—Bella bicara lagi.

“Mmm. Edward,” desahnya.

Kali ini aku tidak khawatir dia terbangun. Suaranya hanya bisikan pelan yang muram, bukan teriak ketakutan sebagaimana mestinya jika dia memang melihatku. Perasaan gembira bergumul dengan kebencian dalam diriku. Paling tidak dia masih memimpikan aku.

“Edmund. Ahh. Terlalu...dekat...”

Edmund?

Ha! Dia sama sekali tidak memimpikan aku, akhirnya aku sadar. Rasa benci pada diriku menguat. Dia memimpikan tokoh-tokoh fiksi. Sia-sia sudah kesombonganku. Aku mengembalikan bukunya, dan kembali menyelinap kebalik bayangan hutan—ke tempatku semestinya.

Siang pun berlalu. Aku mengawasi dengan perasaan tak berdaya ketika matahari pelan-pelan terbenam di ufuk dan bayangan sore merayap menuju arahnya. Aku ingin menghalaunya, tapi kegelapan tidak mungkin dielakan; bayang sore pun mengambilnya. Ketika cahaya menghilang, kulitnya terlihat terlalu pucat—seperti hantu. Rambutnya kembali gelap, hampir hitam dihadapan wajahnya. Itu hal yang mengerikan untuk dilihat—seperti menyaksikan penglihatan Alice menjadi nyata. Suara detak jantung Bella adalah satu-satunya yang menentramkan, suara yang menjadikan momen ini tidak seperti mimpi buruk.

Aku lega ketika ayahnya pulang. Bisa kudengar sedikit suara pikirannya saat dia melaju hampir sampai di rumah. Beberapa gerutuan samar...sesuatu tentang pekerjaannya tadi. Harapan bercampur dengan lapar—sepertinya dia tidak sabar untuk makan malam. Tapi pikirannya tidak terlalu banyak bicara, aku tidak terlalu yakin tebakanku betul; aku cuma menangkap intinya. Kira-kira seperti apa pikiran ibunya—kombinasi genetik seperti apa yang membuat Bella sangat unik.

Dia terbangun, bangkit duduk saat mendengar mobil ayahnya menepi. Dia memandang ke sekeliling, terlihat bingung dengan kegelapan yang tidak disangkanya. Untuk sesaat, matanya melihat kearah kegelapan tempatku bersembunyi, tapi dia langsung mengerjap melihat kearah lain.

“Charlie?” tanyanya pelan, masih sambil mengamati pepohonan di disekeliling halamannya.

Pintu mobil ayahnya dibanting tertutup, dan ia melihat ke arah suaranya. Dia cepat-cepat berdiri dan membereskan barang-barangnya, menoleh sekali lagi ke arah kegelapan hutan.

Aku pindah ke pepohonan yang lebih dekat dengan jendela dapur untuk mendengarkan malam mereka. Ternyata menarik membandingkan perkataan Charlie dengan isi pikirannya. Kecintaan dan kepedulian dia pada putri satu-satunya sangat besar, namun ucapan-ucapannya selalu pendek dan santai. Lebih seringnya mereka cuma duduk diam dengan nyaman. Kudengar ia mengungkapkan rencananya untuk pergi ke Port Angeles besok, dan aku merancang rencanaku sendiri saat mendengarkannya. Jasper tidak memperingatkan teman-temannya untuk menjauhi Port Angeles. Meski aku tahu mereka baru saja berburu belum lama ini dan tidak berniat untuk berburu disekitar rumah kami, aku akan tetap mengawasi Bella. Hanya untuk jaga-jaga. Lagipula, selalu ada mahluk seperti kami di luar sana. Dan, juga ada semua bahaya yang mungkin saja menimpa manusia, yang sebelumnya tidak pernah kupertimbangkan. Kudengar ia cemas besok mesti meninggalkan ayahnya untuk menyiapkan makan malam sendiri. Aku tersenyum pada hal ini karena membuktikan teoriku—ya, dia seorang pengasuh.

Setelah itu aku pergi. Aku akan kembali lagi setelah dia tidur. Aku tidak akan melanggar privasinya seperti seorang pengintip. Aku disini untuk melindunginya, bukan untuk mengambil kesempatan sebagaimana Mike mungkin akan melakukannya jika ia setangkas aku. Aku tidak akan memperlakukannya dengan tidak sopan.

Rumahku kosong saat aku kembali, yang mana baik-baik saja untukku. Aku tidak rindu dengan segala pikiran mereka yang mempertanyakan kewarasanku. Emmet meninggalkan catatan yang ditempel di tiang dekat tangga.

Pertandingan bola di lapangan Rainier—ayo ikut! Please?

Aku menemukan pena dan menuliskan kata Sori dibawah permohonannya. Biar bagaimanapun, teamnya telah lengkap tanpa kehadiranku. Aku pergi ke lahan berburu terdekat, menyantap mahluk kecil lemah yang baunya tidak sebaik manusia yang biasa memburunya, dan kemudian berganti baju sebelum lari kembali ke Forks.

Tidur Bella tidak nyenyak malam ini. Selimutnya berantakan. Wajahnya kadang gelisah, kadang sedih. Aku bertanya-tanya, mimpi buruk apa yang menghantuinya...tapi kemudian sadar, mungkin sebaiknya aku tidak usah tahu.

Ketika bicara, seringkali ia berkomat-kamit mengeluhkan tentang Forks dengan suara murung. Hanya sekali, ketika ia mendesahkan kata, “Kembali,” tangannya membalik terbuka—sebuah sikap memohon. Bisakah aku berharap bahwa mungkin saja ia sedang memimpikan aku.

Hari sekolah berikutnya, hari terakhir matahari memenjarakanku, kurang lebih sama dengan sebelumnya. Bahkan Bella kelihatan lebih murung dari kemarin. Aku jadi bertanya-tanya, apa dia akan membatalkan janjinya—kelihatannya dia sedang tidak mood. Tapi, sebagai Bella, pasti ia akan memilih kesenangan temannya diatas kepentingan sendiri. Ia mengenakan blus biru tua hari ini. Warna itu sangat sempurna dengan kulitnya, membuatnya terlihat seperti krim susu segar.

Sekolah usai, dan Jessica setuju untuk menjemput yang lainnya—Angela juga ikut, membuatku bersyukur. Maka aku pulang ke rumah untuk mengambil mobil. Peter dan Charlotte masih ada. Dan kuputuskan untuk memberi kesempatan bagi Bella dan teman-temannya untuk berangkat satu jam lebih dulu. Aku tidak akan tahan mengikuti di belakang mereka, menyetir di batas kecepatan normal—memikirkannya saja sudah ngeri.

Aku masuk lewat dapur, mengangguk samar pada sapaan Emmet dan Esme saat melewati semuanya di ruang tamu, dan langsung menuju ke piano.

Ugh, dia kembali. Tentu saja itu Rosalie.

Ah, Edward. Aku tidak suka melihatnya begitu menderita. Kegirangan Esme tergantikan oleh cemas. Dia sudah semestinya cemas. Kisah cinta yang ia idam-idamkan untukku semakin nyata akan berbalik jadi tragedi.

Selamat bersenang-senang di Port Angeles nanti malam, pikir Alice dengan riang. beritahu aku kalau sudah boleh bicara dengan Bella.

Kau benar-benar payah. Aku tidak percaya kau melewati pertandingan tadi malam hanya untuk mengawasi seseorang tidur, gerutu Emmet.

Jasper mengacuhkanku bahkan saat lagu yang kumainkan terdengar lebih ribut dari yang kumau. Itu lagu lama, dengan tema yang umum: ketidak sabaran. Jasper sedang berpamitan dengan teman-temannya, yang memandangiku dengan penasaran.

Mahluk yang aneh, pikir Charlotte, si gadis yang semungil Alice dengan rambut pirang keperakan. Padahal dia sangat normal dan sopan saat terakhir kali kami bertemu.

Pikiran Peter kurang lebih serupa dengannya, seperti biasanya. Pasti gara-gara binatang-binatang itu. Tidak minum darah manusia akhirnya membuat mereka gila juga, begitu kesimpulan dia. Rambutnya sepirang Charlotte, dan hampir sama panjangnya. Mereka berdua sangat mirip kecuali tingginya, karena dia hampir setinggi Jasper—pada penampilan dan pemikiran. Pasangan yang sangat cocok.

Setelah beberapa saat, semuanya—kecuali Esme—berhenti memikirkan aku. Dan aku mulai bermain dengan nada-nada lembut agar tidak menarik perhatian. Aku tidak memperhatikan mereka lagi selama beberapa lama, membiarkan musiknya mengalihkanku dari kegelisahan. Rasanya sulit menghilangkan Bella dari pandangan dan pikiranku. Aku hanya kembali memperhatikan pembicaraan mereka ketika Peter dan Charlotte sudah hampir pergi.

“Kalau kau bertemu Maria lagi,” kata Jasper sedikit khawatir. “Katakan padanya aku harap dia baik-baik saja.”

Maria adalah vampir yang telah menciptakan Jasper dan Peter—Jasper diciptakan di pertengahan abad sembilan belas, sedang Peter baru belakangan, pada tahun 1940an. Maria pernah sekali mencari Jasper pada saat kami di Calgary. Itu adalah kunjungan yang luarbiasa—kami harus cepat-cepat pindah. Jasper memintanya dengan sopan agar ia menjauhi dirinya.

“Kurasa itu tidak akan segera terjadi,” jawab Peter sambil tertawa—tidak disangkal lagi Maria berbahaya, dan tidak ada banyak cinta diantara dia dan Peter sebelumnya. Peter cuma dimanfaatkan sepeninggal Jasper. Jasper selalu menjadi favorit Maria; dia menganggapnya detail sepele saat pernah sekali berencana membunuh Jasper. “Tapi mungkin saja aku akan bertemu dengannya.”

Kemudian mereka bersalaman, siap-siap untuk pergi. Kuhentikan laguku di tengah-tengah, dan dengan tergesa-gesa berdiri.

“Charlotte, Peter,” salamku sambil mengangguk.

“Menyenangkan bertemu lagi denganmu, Edward,” ujar Charlotte basa-basi. Sementara Peter cuma menjawab dengan anggukan.

Dasar orang gila, umpat Emmet padaku.

Idiot, Rosalie memikirkan hal yang sama.

Kasihan, itu Esme.

Dan Alice, dengan suara mencibir, mereka akan langsung ke timur, menuju Seattle. Tidak mendekati Port Angeles. Dia memperlihatkan bukti penglihatannya.

Aku pura-pura tidak mendengar. Alasanku sudah cukup lemah. Setelah di dalam mobil, aku merasa lebih tenang; dengung mantap suara mesin yang telah di tune-up oleh Rosalie—tahun lalu, saat moodnya lebih baik—terdengar menyenangkan. Rasanya lega bisa di jalan lagi, mengetahui setiap mil yang kulewati membawaku semakin dekat dengan Bella.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah menjadi reader blog ini...
Jika ingin men-share link silakan...
Tidak perlu bertanya kapan episode selanjutnya, kalau memang sudah selesai pasti akan langsung diupdate...
DAN MOHON UNTUK TIDAK MENG-COPYPASTE SINOPSIS DARI BLOG INI...

Sapaan di Tahun 2018

Assalamu'alaikum kawan, apa kabarnya? Buat teman-teman muslim Selamat Menjalankan Ibadah Puasa.